Sudah Terlalu Lama Sendiri

Sudah terlalu lama aku sendiri

ya, 23 tahun bukan waktu yang sebentar

Sudah terlalu lama aku asik sendiri

bahkan, kesendirian ku jadikan teman sepermainan

lama tak ada yang menemani
rasanya…..

Bosan dan lelah jika aku berada dalam keramaian.

Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hati
Bahkan disaat sendiri aku tak pernah merasa sepi

Karena kesepian keseharian, hal itu sudah sejajar dengan kenyang dalam daftar perasaanku.

Sampai akhirnya ku sadari aku tak bisa terus begini

Karena kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri

Aku harus berusaha tapi mulai dari mana

Sudah terlalu lama aku sendiri
Sudah terlalu lama aku asik sendiri
Lama tak ada yang menemani
Rasanya

Sudah terlalu asik sendiri
Sudah terlalu asik dengan dunia ku sendiri
Lama tak ada yang menemani
Rasanya

Teman-teman ku berkata yang kau cari seperti apa?

Aku sendiri tak tau

Ku hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya

Kata-kata yang sering kuucapkan untuk diriku sendiri

Walau jauh di lubuk hati aku tak ingin terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai dari mana

Karena terlalu banyak cela dalam diriku,

Note: Pikiran yang terlintas saat mendengar lagu ‘Sudah Terlalu Lama Sendirr’ Kunto Aji

bukan tanpa nyali sadar aku begini
apa yang di depan mata tak seperti yang engkau kira
bahwa sesungguhnya pintu hati menunggu terbuka

It’s Imposible

Kau akan menulis sebuah cerita dan menerbitkannya?
Jangan bercanda!
Menulis tak semudah yang kau bayangkan.
Bahkan untuk menggambarkan apa yang kau rasakan saja kau tak mampu,Bagaimana bisa kau membuat sebuah cerita?
Cerita itu lebih kompleks dari sebuah proposal kegiatan.
Cerita apa yang akan kau buat?
Cerita cinta tentang seseorang yang mengalami crush pada 7 orang?
Atau cerita tentang anak buangan yang tengah depresi menyelesaikan skripsi?.
Sadarlah, kau tak ingin keluar dari sebuah kotak yang kau beri nama ‘zona nyaman’.
Itulah yang membuatku ragu kau bisa menulis.

Menthog-Menthog

“Menthog-menthog, tak kandani (menthog, Kuberitahu)

Mung lakumu angisini-isini (cara jalanmu memalukan)

Lha mbok ojo ngetok neng kandang wae (Tak usah keluar kandang)

Enak enak ngorok ora nyambut gawe” (Tidur dan tak bekerja)

(sumber: ‘Menthog-menthog’)

Sudah dua tahun kuturuti lagu ini. Karena malu akan diriku yang lemah, aku diam tak bergerak. Tak berusaha berlari menggapai mimpi-mimpi yang dulu sempat ku gantung di atap kamar. Disini aku terbangun dengan memandang sesal pada kepongahan yang tertulis bersama impian ideal seorang ‘Aku’.

Pagi ini aku tersadar, menthog saja tak malu atas cara berjalannya, kenapa kau malu? Bukankah manusia hanya hidup sekali makanya dia berbuat salah sekali-kali (Young Jin, IOTL). Jika kau berbuat salah berkali-kali, maka perbaikilah berkali-kali. Karena tak ada hal lain yang bisa kau lakukan bukan?

Biarkan dua tahun menjadi pelajaran untukmu agar berapa puluh tahun hidupmu ke depan bisa menjadi lebih baik. Bangkitlah perlahan dan susunlah kembali pijakanmu. Ingatlah kau sedetik pun, tak pernah sendirian. (Jang Jae Yeol, IOTL)

Dua Tahun Lalu

Kuedarkan pandangan ke beberapa kelompok mahasiswa yang ada di pendopo ini. Salah satu kelompok menarik perhatianku. Mereka membawaku ke kenangan dua tahun lalu. Ketika aku dengan pongahnya menjadi ketua kelompok.

Saat itu, aku membanggakan diriku sendiri. Aku pun berteriak pada dunia dalam hati ‘Lihatlah aku, diantara 6 cowok dan 4 cewek aku yang terpilih jadi ketua, lihat apa yang akan ku lakukan pada kelompok ini’

Kemudian, Allah mengingatkanku dengan mengirimkan manusiaNya untuk mencuri. Bukan hanya sebuah kotak bernama Handphone yang dia ambil, tapi kenaifanku juga ikut dibawanya. Kepercayaanku bahwa semua orang baik di dunia ini hilang bersama kotak yang dibawanya.

Mulai saat itu semua tanda yang kuberikan pada sepasang mata yang kulihat tak lain adalah tanda minus. Seakan tak ingin memperbaiki pandangan ku tentang semua orang Dia menamparku kembali dengan mengirimkan manusia yang menyembah selain Dia untuk menghantamkan kuda besiku ke kotak besi beroda empat.

Hal itu semua tak berhenti begitu saja, dan beberapa bulan kemudian, kotak hitam bernama netbook direnggut seseorang saat aku terlelap.

Kini, disinilah aku masih masih mengingat tiga rangkaian kejadian itu. Mengobati hati yang terluka. Menuntun kaki yang telah letih berjalan menuju mimpi. Menatap iri pada mereka yang berhasil mengatasi apapun masalah mereka. Meminta pertolongan, tetapi aku menyibakkan tangan mereka karena mereka bernilai minus.

Disinilah aku, tanpa keinginan untuk berlari meengejar ketertinggalanku. Aku masih berada di sini, di dua tahun lalu.